Rabu, 07 September 2016 - 15:02:22 WIB

MINI SEMINAR 'EDUKASI ANTI FRAUD: PERAN DUNIA PENDIDIKAN, COORPORATE, DAN GOVERNMENT'

   

Rabu, 07 September 2016 Kadegama (Keluarga Alumni Diploma Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada) bekerja sama dengan Prodi Akuntansi, DEB SV UGM melakukan mini seminar bertajuk: “Edukasi Anti Fraud: Peran Dunia Pendidikan, Corporate, dan Government” yang disampaikan oleh Dr. Rozmita Dewi YR., M.Si (pakar Akuntansi Forensik). Fraud adalah suatu perbuatan melawan atau melanggar hukum yang dilakukan oleh orang dari dalam atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk memperkaya atau mendapatkan keuntungan diri sendiri, orang lain, atau badan hukum lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.
Hasil riset menunjukkan, bahwa fraud dapat diidentifikasi berdasarkan 3 cabang analisis (yang mana 3 cabang ini menjadi lajur kejahatan yang paling rawan), yaitu (a) korupsi, (b) penggunaan aset yang tidak semestinya, (c) kesalahan pelaporan laporan keuangan.
Korupsi, bisa berasal dari (1) conflict of interest (purchasing schemes, sales schemes), (2) bribery (invoice kickbacks, bid rigging), (3) illegal gratuities, (4) economic extortion.


Penggunaan aset yang tidak semestinya, bisa berasal dari 2 sumber: pertama, cash dan kedua inventory and all other assets. Cash, bisa diidentifikasi berdasarkan (1) theft of cash on hand, (2) theft of cash receipts, dan (3) fraudulent disbursements. Inventory and all other assets, bisa diidentifikasi berdasarkan (1) misuse dan (2) larceny (asset requisitions and transfers, false sales and shipping, purchasing and receiving, dan unconcealed larceny).
Kesalahan pelaporan laporan keuangan, bisa berasal dari 2 sumber, pertama asset/revenue overstatements, dan kedua asset/ revenue understatements. Asset/revenue overstatements yaitu (1) timing differences, (2) fictitious revenues, (3) concealed liabilities and expanses, (4) improper asset valuations, dan (5) improper disclosures. Sedangkan asset/ revenue understatements dapat diidentifikasi dari (1) timing differences, (2) understated revenues, (3) overstated liabilities and expense, dan (4) improper asset valuation.
Dr. Rozmita menyebutkan, bahwa hampir selalu konsisten bahwa setiap organisasi (institusi, perusahaan atau lainnya) manapun pasti kehilangan cash minimal 5% dari pendapatan seharusnya akibat fraud. Dan 94,5% kasus pelaku fraud tsb disembunyikan oleh penipunya melalui cara yang paling normative, yaitu: disembunyikan dan atau mengubah dokumen fisiknya.


Peran dunia pendidikan, corporate, dan government mengatasi perilaku ini dapat dengan tindakan: (1) Dosen memberikan tugas atau ujian berbasis "sudut pandang mahasiswa" atau setiap ujian berbasis paper atau makalah dengan format pembuatan atas nama pribadi; (2) Dosen harus memiliki regulasi untuk mengapresiasi tugas atau ujian yang diberikan; (3) Pada kegiatan perkuliahan, hendaknya menyisipkan edukasi anti-fraud; (4) Mahasiswa pun memiliki peran dalam hal pencegahan korupsi dengan cara membuat sebuah komunitas epistemik. Gaungan komunitas epistemik ini diperkenalkan oleh Michel Foucault. Komunitas epistemik merupakan komunitas penyebar virus positif yang dibangun oleh orang-orang baik; (5) Mahasiswa membudayakan sikap jujur; dan (6) Mengerjakan tuntutan belajar yang ada se-mandiri mungkin. Karena biasanya, ketika sudah tergantung dengan pihak lain, sulit untuk percaya pada diri sendiri. (Red : Bahrul FR)