Senin, 24 September 2018 - 18:30:51 WIB

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN VOKASIONAL DI ERA INDUSTRI 4.0

Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Vokasional di Era Industri 4.0” pada Sabtu (22/9) lalu.

Diselenggarakan di Hotel Santika Yogyakarta, para pembicara yang dihadirkan mengulas berbagai tantangan, serta kesempatan untuk mengembangkan pendidikan vokasional sebagai penggerak perekonomian Indonesia di masa mendarang.

“Pemerintah sadar bahwa kita sudah terlalu lama meninggalkan pendidikan vokasi. Maka sekarang setiap kali Presiden berbicara tentang pendidikan, yang disampaikan adalah pendidikan vokasi, bagaimana ini kita revitalisasi,” tutur Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti Kemenristek dan Dikti, Pardono Suwignjo.

Pardono menuturkan, dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia, jumlah politeknik serta sekolah vokasi masih terlalu sedikit, hanya sekitar 5,4 %. Jumlah ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan persentase jumlah mahasiswa politeknik di negara-negara industri maju. Selain minim dari segi jumlah, persoalan lain terletak pada segi kualitas, yang ditunjukkan dari akreditasi masing-masing perguruan tinggi. “Di Indonesia jumlah politeknik kurang, mutunya pun belum bagus. Yang terakreditasi A hanya 3 dari 262 politeknik,” paparnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah telah menyusun kerangka revitalisasi pendidikan tinggi vokasi agar industri mendapat pasokan tenaga kerja kompeten dan semua lulusan sekolah vokasi bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Revitalisasi yang dilakukan di antaranya meliputi penyesuaian kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri, pembangunan teaching factory, perekrutan lebih banyak dosen dari industri, re-training dosen, serta melakukan revisi terhadap peraturan tentang pendidikan vokasi.

“Kita juga menyiapkan sistem multy entry multi exit, dan mahasiswa bisa masuk program di awal tahun pertama, kedua, ketiga, atau keempat, dan keluar di akhir tahun kedua, ketiga, atau keempat. Di samping mendapatkan ijazah, mahasiswa juga mendapatkan sertifikat kompetensi apabila mereka lulus dalam tes sertifikasi kompetensi,” jelas Pardono.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Sekretariat Badan Nasional Sertifikasi Profesi Kemenaker, Ir. Darwanto, memaparkan beberapa tantangan dari digitalisasi industri bagi tenaga kerja Indonesia, di antaranya hilangnya 1-1,5 miliar pekerjaan sepanjang 2015-2025 karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis. Selain itu, diestimasi pada masa yang akan datang, 65% murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada hari ini.

Meski demikian, era ini juga menghadirkan berbagai potensi untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat. Potensi inilah yang harus diolah dan diarahkan agar dapat sungguh-sungguh memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional.

“Negara harus hadir, menyikapi secara bijaksana setiap potensi dan mengarahkannya kepada kekuatan. Pemanfaatan teknologi bagi kehidupan dalam membentuk lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Darwanto.

Secara lebih spesifik, salah satu strategi ketenagakerjaan yang disusun untuk merespons tuntutan tenaga kerja masa depan di antaranya melakukan re-desain kurikulum dengan pendidikan human digital, kolaborasi antara dunia industri, lembaga diklat dan asosiasi untuk identifikasi kebutuhan kompetensi masa depan, serta investasi pengembangan kompetensi digital. (Humas UGM/Gloria)

Pada sesi kedua Bapak Ir.karyawan Aji M.Eng. selaku Kepala Divisi Pengembangan talenta PT.PLN (Persero) menuturkan bahwa "Untuk tahun 2019, jumlah pegawai yang akan direkrut PT.PLN  ditargetkan menurun dari 4611 pegawai pada tahun 2018 menjadi 3600 pegawai, hal ini dikarenakan pada tahun 2019 diperkirakan proyek-proyek sudah banyak yang diselesaikan, untuk itu perlu adanya peninjauan kembali mengenai kurikulum perguruan tiinggi untuk disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga industripun dapat menyediakan program magang yang relevan dalam mewujudkan proses Link and Match antara kedua pihak.

"Di level D3, di level D4, S1, dan S2 kita ada poin-point kita untuk menuju kesana, dan beberapa sudah terlaksana, dan nanti tinggal bagaimana evaluasinya, bagaimana kita memperbaikinya, kita mulai dari D3 kita sudah mulai dari tahun 2013 melaksanakan kurang lebih ada 11 mata kuliah dalam kerjasama ini yang merefer PLN, dan juga magang plus uji pra sertifikasi, karena waktunya sangat mepet belum memungkinkan untuk mendapatkan sertifikasi" kata Karyawan Aji.

Dalam kesempatan yang sama Ir.Ihsanudin Usman M.B.A. selaku Senior Vice President Human Capital Development PT.Pertamina (persero) menyampaikan bahwa yang dihadapi oleh Pertamina sekarang adalah "Generation Gap" yaitu saat ini pegawai Pertamina di dominasi oleh tenaga milenial dengan rata-rata umur keseluruhan pegawai sekar 37 tahun, sedangkan Pertamina menghendaki pegawai yang selain siap kerja, juga memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat bekerja secara efektif dan efisien.

"Telah terjadi rekrutment secara besar-besaran baik PLN maupun Pertamina, dan hal itu membuat gunung yang besar untuk usia dibawah usia 35 tahun, jadi generation gap ini membuat suatu pertanyaan bagaimana kontinuitas bisnis yang ada disebuah perusahaan. Mungkin bisa saja universitas mendidik tenaga kerja yang siap kerja, tapi apakah kemudian dia mampu bekerja efektif dan matang sebagai pimpinan itu kan butuh waktu, tidak bisa tiba-tiba disekolahkan S1, S2, S3 lalu tiba-tiba bisa menjadi General Manajer (GM), ya rasanya sangat-sanga sulit lah, inilah yang terjadi di Pertamina, saya tidak tahu apakah terjadi juga di PLN sana, saya rasa terjadinya sama" kata Ihsanudin. (red)

 

Video

     

  Seminar Sesi 1

 

 

   Seminar Sesi 2